Global Alami Krisis Energi, Kementerian ESDM Ingin Percepatan Transisi Energi Jadi Komitmen KTT G20!
Menteri
ESDM Arifin Tasrif. (Foto: Ist)
Jakarta –
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang
akan diadakan di Bali pada tanggal 15-16 November 2022 menargetkan, salah
satunya, komitmen bersama percepatan transisi energi dalam poin deklarasi
pertemuan puncak. Hal ini dikarenakan transisi energi adalah solusi krisis
energi global saat ini.
Staf Ahli Menteri Bidang
Perencanaan Strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yudo
Dwinanda Priadi menuturkan dalam jumpa pers melalui daring pada 8 November
2022:
“Negara G20 sepakat untuk
mempercepat transisi energi termasuk memastikan tercapainya target pembangunan
global berkelanjutan di tahun 2030. Khususnya untuk akses energi modern yang
handal, berkelanjutan dan terjangkau bagi semua.”
“Dalam pertemuan para
menteri energi di Bali, semua sepakat untuk melakukan transisi energi dengan
tidak ada yang tertinggal. Meski pada pertemuan itu negara-negara mengakui
adanya perbedaan situasi dan kondisi setiap negara serta sepakat untuk mencapai
target-target global,” ujar Yudo.
Untuk mendukung transisi
energi, lanjut Yudo, para negara energi itu menekankan pentingnya untuk
pengembangan teknologi yang inovatif dan terjangkau, termasuk pentingnya kerja
sama transfer pengetahuan dan inovasi teknologi.
“Para negara itu juga
sepakat untuk meningkatkan investasi dan mendorong aliran dana bagi negara
berkembang guna percepatan transisi energi serta pentingnya memperkuat kerja
sama,” ucap Yudo.
Sebagai informasi, “Bali
Compact” berprinsip percepatan transisi energi dengan mempertimbangkan
keuntungan bagi semua pihak tanpa ada yang tertinggal dalam prosesnya.
Selain itu, prinsip
tersebut juga untuk menghargai perbedaan situasi dan kondisi masing-masing
negara. Meski demikian, semua tetap sepakat untuk mencapai target-target
global.
Adapun kesembilan prinsip
dalam “Bali Compact” yang disepakati oleh negara-negara G20 adalah sebagai
berikut.
1.
Memperkuat kepercayaan dan kejelasan dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi secara nasional.
2.
Meningkatkan ketahanan energi, stabilitas
pasar, dan keterjangkauan.
3.
Mengamankan pasokan energi, infrastruktur,
dan sistem yang tangguh, berkelanjutan, dan handal.
4.
Meningkatkan pelaksanaan efisiensi energi,
mendiversifikasi sistem dan bauran energi.
5.
Menurunkan emisi dari semua sumber energi.
6.
Mengkatalisasi investasi yang inklusif dan
berkelanjutan dalam skala besar ke arah sistem energi rendah emisi atau Net
Zero Emission.
7.
Berkolaborasi dalam memobilisasi semua sumber
pendanaan untuk mencapai tujuan Agenda Sustainable Development Goals (SDGs)
2030 dan Paris Agreement.
8.
Meningkatkan teknologi yang inovatif,
terjangkau, cerdas, rendah emisi atau Net Zero Emission.
9.
Membangun dan memperkuat ekosistem inovasi
untuk mendorong penelitian, pengembangan, demonstrasi, diseminasi, dan
penerapannya.
Menurut Yudo, ada beberapa
tantangan yang harus dihadapi untuk mewujudkan transisi energi, yaitu teknologi
dan pendanaan.
“Tantangan lain yang perlu
dihadapi adalah dana. Sebab, transisi energi membutuhkan dana yang tidak
sedikit, termasuk guna mempercepat waktu pensiunnya pembangkit listrik tenaga
uap (PLTU).
“Selain itu, penguasaan
teknologi, waktu pelaksanaan proyek, dan kesiapan industri pendukung baik dari
sudut aspek teknis maupun keekonomian juga menjadi catatan daftar tantangan
berikutnya,” kata Yudo.
Untuk mengatasi
permasalahan tersebut, sebut dia, Indonesia terus berupaya untuk melakukan
sejumlah terobosan, mulai dari penerbitan Peraturan Presiden (PP) Nomor 12
Tahun 2022 tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan
Tenaga Listrik dan penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) energi baru dan
terbarukan (EBT).
Adapun rancangan tersebut
bertujuan untuk memberikan kepastian hukum, perkuatan kelembagaan, dan tata
kelola, penciptaan iklim investasi yang kondusif dan pemanfaatan sumber EBT
untuk pengembangan industri ekonomi nasional.
“RUU ini nantinya menjadi
game changer untuk mempercepat transisi energi di Indonesia,” ujarnya.

Comments
Post a Comment