Jokowi Komitmen Kurangi Emisi Karbondioksida! Ayo Rasakan Sensasi Kawasan Bebas Polusi di Lokasi KTT G20 Bali
Prajurit TNI mengetes mobil listrik yang akan digunakan oleh delegasi KTT G20 di Nusa Dua, Bali, Kamis (10/11/2022). (Foto: Ist)
Jakarta – Ajang Presidensi G20 2022 yang dipimpin Presiden Jokowi meneguhkan komitmen Indonesia untuk mengawal pengurangan emisi karbondioksida global. Oleh karena itu, penggunaan mobil listrik selama KTT G20 sekaligus sebagai showcase bahwa negara kita mampu mengembangkan kendaraan listrik.
Memang ada hal yang berbeda dibandingkan perhelatan Presidensi G20 sebelumnya. Selama acara puncak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Nusa Dua, Bali pada 15–16 November 2022, seluruh kepala negara dan delegasi yang hadir memakai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Mulai dari kendaraan bus, mobil, dan sepeda motor yang digunakan untuk keperluan KTT, seluruhnya memakai energi listrik.
Sejumlah titik tersebut diantaranya Bali International Convention Center (BICC), Bali Nusa Dua Convention Center (BNDC), Grand Hyatt, Courtyard, dan Santika Siligita.
Kendaraan listrik membuat jalanan tidak bising. Pasalnya, kendaraan listrik memiliki suaranya yang senyap alias tidak ada suara knalpot.
Udara juga terasa lebih segar. Maklum, tidak ada asap kendaraan yang membumbung.
Aulia, salah satu peserta G20 mengatakan bus listrik tidak terasa terlalu beda dengan bus yang menggunakan bensin. Namun, ia mengakui, bus listrik memang tidak seberisik bus bensin.
"Kalau bus listrik rasanya nggak ada bedanya sama bus bensin sih. Mungkin lebih halus aja, nggak ada suara mesinnya, tapi feeling-nya sama saja," kata Aulia, Selasa (15/11).
Ia mengatakan perbedaan justru lebih terasa saat menggunakan motor listrik. Menurutnya, motor listrik memang berjalan lebih halus dibanding motor bensin. Namun, ia mengeluhkan ukuran motor listrik yang lebih kecil.
Sementara itu, peserta G20 lainnya, Thea, mengatakan bus listrik memang cukup membantu mobilisasinya selama di G20 Bali.
Kendati baik untuk lingkungan, ia merasa jumlah bus yang disediakan masih kurang memadai. Pasalnya, jika ingin menggunakan bus listrik, peserta dan delegasi G20 bisa menunggu sekitar 15 menit hingga bus datang.
"Jadi kita harus menunggu cukup lama buat naik bis ini. Selain itu rutenya dia muterin semua venue, agak kurang efisien dan lama," katanya.
Untuk motor listrik, peserta bisa langsung menemui para driver yang siap mengantarkan peserta ke titik tujuan.
Sementara, mobil listrik khusus digunakan untuk mengantar para delegasi yang sudah memesan terlebih dahulu.
Untuk mendukung operasional kendaraan listrik itu, pemerintah melalui BUMN sudah menyiapkan puluhan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di beberapa titik.

Comments
Post a Comment